103 203 123
Address

Sejarah Masjid Sabilurrosya’ad, Dipercaya Peninggalan Raden Trenggono di Bantul

Sebagian besar masjid di Kabupaten Bantul memiliki sejarah belajar yang menarik, termasuk bangunan Masjid Sabiilurrosyaad di yang berada di sebuah Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kabupaten Pandak, Bantul. Tidak hanya sejarah, Panembahan Bodho atau Masjid Raden Trenggono juga memiliki jam matahari sebagai faktor penentu untuk waktu sholat.

Takmir dari Masjid Sabilurrosya’ad,Parji Krecak, 52, mengatakan masjid itu adalah warisan Raden Trenggono setelah mempelajari Islam di bawah kepemimpinan Sunan Kalijaga. Menurutnya, masjid dengan arsitektur Jawa dibangun pada 1485 Masehi.

Sejarah Masjid Sabilurrosya'ad, Dipercaya Peninggalan Raden Trenggono di Bantul

Ini adalah satu-satunya peninggalan Raden Trenggono atau Panembahan Bodho. Dia adalah keturunan darah biru di Demak, tetapi dia memilih untuk datang ke sini (Kauman) dan menyebarkan Islam tepat setelah bertemu Sunan Kalijaga, Parji Krecak menjelaskan bahwa letak Masjid Sabilurrosya’ad berada di Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul, Senin (13/5/2019).

Parji Krecak melanjutkan, nama Panembahan Bodho sendiri diperoleh oleh Raden Trenggono dari Sunan Kalijaga. Di mana saat ini Raden Trenggono menganggap gemuruh di pantai selatan sebagai tanda serangan Portugis, meskipun suara ombak datang di pantai selatan.

Selain itu, ketika Sunan Kalijaga menyuruhnya bermeditasi, Raden Trenggono masih membawa persediaan makanan. Karena dianggap tidak berpengalaman, Sunan Kalijaga memberi nama Raden Trenggono dengan Ki Bodho, katanya.

Jika gelar Panembahan diperoleh oleh Ki Bodho ketika daerah terong ditempati oleh Mataram. Karena rasa hormatnya pada ahli waris dan keturunan Adipati Terung, Panembahan Senopati memberikan peringkat yang lebih tinggi kepada Ki Bodho dengan tanah fief di sebelah timur wilayah Progo- sungai di utara ke Gunung Merapi, dan sebagai negara perdesaan Ki Bodho menerima gelar Panembahan, tambah Parji Krecak.

Parji Krecak menjelaskan bahwa Masjid Sabilurrosya’ad telah mengalami beberapa kali renovasi sehingga bentuk asli masjid yang dibangun oleh Panembahan Bodho belum terlihat. Renovasi terpaksa dilakukan karena kapasitas masjid tidak bisa lagi menampung kota.

Ini telah dipulihkan beberapa kali, yang terakhir pada tahun 1982 ketika teras masjid diperbaiki. Kalau yang tersisa hanya tersisa drum dan watu giling yang berada di sebelah jam matahari, kata Parji Krecak.

Watu Gilang, kata Parji Krecak, memiliki dua versi untuk penjelasannya, dengan versi pertama dari batu hitam berukuran sekitar 1×1 meter digunakan sebagai sepatu Panembahan Bodho saat mengambil air cuci.

Sedangkan versi kedua, watu gilang adalah peninggalan Hindu yang sering disebut Yoni. Di mana Yoni bertindak sebagai penanda tempat atau cara pemujaan umat Hindu.

Saat itu, mungkin Panembahan Bodho ingin menghormati komunitas agama lain (Hindu) dengan memasang Yoni sebagai tanda bahwa ada tempat ibadah (masjid), katanya.

Selain itu, tepat di sebelah watu gilang ada juga jam matahari atau dalam bahasa Jawa disebut jam Bancet. Parji Krecak menjelaskan bahwa jam itu, yang disebut jam istiwak dalam bahasa Arab, bukan peninggalan Panembahan Bodho.

Ini (jam Bancet) adalah yang baru, dibuat pada tahun 1950 dari pabrik Magelang ini. Fungsi jam ini adalah untuk memudahkan orang untuk mengetahui waktu sholat, karena di masa lalu masyarakat sulit menentukan waktu sholat, katanya.

Menurut AFP, jam matahari ini berbentuk bujur sangkar dengan rongga di bagian atas. Kotak itu terbuat dari tembaga dengan paku di tengah kotak.

Di lembah juga angka 5,4,3,2,1 di sebelah kiri dan 7,8,9,10,11 di sebelah kanan. Di mana angka 12 ada di tengah, bayangan kuku ketika terkena sinar matahari mengarah ke nomor itu.

Jamuan ini hanya bisa digunakan untuk menentukan waktu sholat siang, sekaligus akurat, meski ada perbedaan 10 menit dibandingkan jam, pungkasnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *