103 203 123
Address

Menelusuri Masjid Selawe dan Silsilah Lahirnya Pendiri NU KH Hasyim Asyari

Masjid Selawe adalah masjid kecil yang menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Tambakberas, pesantren terbesar dan tertua di Jombang, Jawa Timur.

Menurut pengurus pondok pesantren di Tambakbera, KH Jauharidin al Fatih, masjid Selawe yang awalnya sangat sederhana didirikan pada tahun 1825 oleh KH Abdussalam, cucu Pangeran Benowo, yang tidak lain adalah putra Joko Tingkir.


Menelusuri Masjid Selawe dan Silsilah Lahirnya Pendiri NU KH Hasyim Asyari

Masjid Selawe terletak di Dusun Gedang, Desa Tambakrejo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Berdasarkan ukurannya, masjid yang sangat kecil ini dibangun oleh KH Abdussalam bersama dengan 25 muridnya, sehingga lebih dikenal sebagai Langgar Selawe.

“KH Abdussalam adalah keturunan Raja Majapahit, Brawijaya kelima, dari Joko Tingkir atau garis keturunan Sultan Pajang,” kata KH Jauharidin al Fatih.

KH Abdussalam atau lebih dikenal sebagai Mbah Shoichah adalah putra KH Abdul Jabar bin Pangeran Benowo bin Jokotingkir (Sultan Pajang).

Pada 1800, KH Abdussalam atau Mbah Shoichah menjadi salah satu panglima perang Pangeran Diponegoro ketika ia berperang melawan Belanda.

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, para pengikutnya, termasuk KH Abdussalam, melarikan diri ke timur. Selanjutnya, ia membangun sebuah apartemen di hutan tersembunyi yang sekarang disebut Dusun Gedang.

Di situs ini, KH Abdussalam membangun masjid dan gubuk kecil untuk pengikut, yang juga menjadi muridnya dan berjumlah 25 orang. Penyebutan angka 25 dalam bahasa Jawa adalah Selawe.

Inilah mengapa masjid dan pondok KH Abdussalam menjadi lebih dikenal sebagai Pondok Selawe.

Di sinilah KH Abdussalam menempa murid-muridnya dengan ilmu Syariah, ilmu alam dan ilmu pertambangan kano.

Selama 13 tahun pertempuran di tempat ini, KH Abdussalam berhasil menyulap dusun Gedang, yang awalnya merupakan hutan belantara, ke pemukiman padat penduduk. Pesantren juga terus berkembang.

Pesantren yang dikembangkan oleh KH Abdussalam berkembang sangat cepat dari masjid Selawe ini. Jual Kubah Masjid Enamel

Setelah usianya yang lanjut, KH Abdussalam menyerahkan kepemimpinan Pesantras kepada dua menantunya, yaitu Kiyai Usman dan Kiyai Said.

Setelah restu KH Abdussalam, sekolah asrama dibagi menjadi dua bagian. Kiyai Said mengembangkan pesantra di sebelah barat Sungai Tambakberas (Dusun Tambakberas), dan Kiyai Usman terus mempertahankan sekolah asrama di sebelah timur Sungai (di Dusun Gedang).

Setelah kematian kedua pendeta, pesantra di barat sungai dikembangkan lebih lanjut oleh putra Kiyai Said, KH Hasbulloh. Sementara pesantras di sebelah timur sungai tidak bergerak lebih jauh karena Kiyai Usman tidak memiliki putra.

Untuk menyelamatkan pendidikan siswanya, Kiyai Asyari, menantu Kiyai Usman, membawa para siswa di sebelah timur sungai ke Desa Keras di Kabupaten Diwek Jombang, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng.

Chaplain Asyari melahirkan putranya, yang menjadi cendekiawan besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yaitu KH Hasyim Asyari.

Sementara Pondok Pesantren Tambakberas terus berkembang pesat, menjadi pondok pesantren terbesar dan tertua di Kabupaten Jombang.

Namun demikian, keberadaan Masjid Selawe, yang menjadi pendahulunya, belum dipulihkan dan telah mempertahankan keasliannya. Ini adalah bukti dari peninggalan sejarah Islamis di Jombang.

Jika kita berbicara tentang pembangunan masjid, kita akan secara singkat masuk ke pengembangan masjid pada zaman Islam dahulu kala sampai sekarang.

Masjid adalah bangunan atau area yang dipagari dan khusus dibangun sebagai tempat ibadah bagi Allah SWT, terutama untuk sholat. Istilah masjid berasal dari kata Sajada-Yasjudu, yang berarti sujud atau ibadah.

Karena masjid adalah Baitullah (rumah Allah), orang yang masuk dapat melakukan sholat Tahiyyatul Mosque (dengan mempertimbangkan dua masjid Rak’ah). Nabi Muhammad SAW berkata, “Jika salah satu dari kalian memasuki masjid, jangan duduk sebelum shalat dua rakaat.” (Diceritakan oleh Abu Dawud)

Kata masjid adalah bentuk mufrad (tunggal). Sementara “banyak (banyak) peziarah dapat ditemukan dalam Alquran, termasuk dalam ayat berikut:” Wahai putra Adam, kenakan pakaian indah Anda di setiap (masuk) masjid … “(QS Al-A’raaf [7]: 31).

Dalam ayat lain, Allah berfirman SWT, yang berarti, “Hanya mereka yang membuat masjid-masjid Allah makmur adalah mereka yang percaya pada Allah dan lusa dan terus berdoa, melakukan zakat dan tidak takut (terhadap siapa pun) kecuali Allah have … ” (QS At-Taubah [9]: 18).

Sejarah pengembangan bangunan masjid terkait erat dengan perluasan wilayah Islam dan pembangunan kota-kota baru. Pada awal perkembangan Islam di berbagai negara, masjid adalah salah satu sarana kepentingan publik yang mereka lakukan ketika umat Islam menetap di daerah baru.

Masjid adalah salah satu karya budaya orang-orang di bidang teknologi bangunan, yang telah merintis sejak awal. Ini kemudian menjadi merek dagang dari negara atau kota Islam. Perwujudan bangunan masjid juga merupakan simbol dan cermin dari cinta umat Islam kepada tuannya dan bukti tingkat perkembangan budaya Islam. Bangunan-bangunan masjid, yang memiliki keindahan yang menakjubkan di bumi Spanyol, Suriah, Kairo, Baghdad dan sejumlah tempat di Afrika, menjadi saksi relik monumental kaum Muslim yang telah mendapatkan ketenaran di bidang teknologi konstruksi, seni dan ekonomi.

Masjid terdiri dari sejumlah komponen, yaitu kubah, menara, mihrab dan mimbar. Komponen masjid yang khas di Indonesia adalah drum. Masjid ini digunakan tidak hanya sebagai tempat sholat lima waktu, sholat Jum’at, sholat Tarawih dan layanan lainnya, tetapi juga untuk layanan Islam, pendidikan agama, pembacaan dan kegiatan sosial lainnya.

Fungsi masjid yang sebenarnya dapat dikaitkan dengan sejarah awal masjid, yaitu penggunaan masjid pada zaman al-Khulafaa-ar Rashidun dan sebagainya. Pada masa itu, masjid memiliki setidaknya dua fungsi, keagamaan dan sosial. Fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga sebuah institusi untuk memperkuat hubungan dan ikatan komunitas Islam yang baru tumbuh.

Rasulullah menggunakan masjid sebagai tempat untuk menjelaskan wahyu yang ia terima, menjawab pertanyaan teman-temannya tentang berbagai masalah, memberikan fatwa, mengajarkan Islam, menumbuhkan pertimbangan, menyelesaikan masalah dan perselisihan, tempat untuk strategi militer dan Atur dan kembangkan tempat untuk menerima misi dari Semenanjung Arab.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *