103 203 123
Address

Masjid Badiuzzaman Sunggal, Dibangun dengan Ribuan Putih Telur

Ada beberapa masjid kuno di Sumatera Utara. Salah satu yang menarik adalah Masjid Badiuzzaman. Masjid ini didirikan 60 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu pada tahun 1885.

Masjid Badiuzzaman didirikan oleh Raja Sunggal (juga disebut Raja Serbanyaman) dengan nama Datuk Diraja Badiuzzaman Sri Indra Pahlawan Surbakti dan merupakan Raja VII dari Kerajaan Sunggal.

Safruddin, seorang pengamat sejarah dari UINSU, menjelaskan bahwa masjid itu dibangun selama Perang Sunggal (Perang Songgal, para sarjana Barat menyebutnya Batak Oorlog karena medan perang terutama di daerah pegunungan di mana suku Batak Karo berada Kehidupan.

Masjid Badiuzzaman Sunggal, Dibangun dengan Ribuan Putih Telur

1. Ribuan protein digunakan sebagai lem untuk masjid Badiuzzaman

Dalam sejarah Masjid Badiuzzaman, terjadi perang antara 1872 (15 Januari 1872-1895). Pada waktu itu, Belanda melarang masuknya semen ke daerah Sunggal sampai bangunan itu dilengkapi dengan semen yang dibatasi. Masjid yang dibangun tidak menggunakan semen dalam perekat antara pasir dan batu, melainkan protein.

Ribuan protein digunakan. (Sebenarnya ada banyak bangunan dalam sejarah di mana protein digunakan ketika tidak ada semen pada saat itu), katanya.

2. Pada zamannya, Masjid Badiuzzaman adalah tempat pertemuan prajurit Sunggal

Dia juga menyatakan bahwa masjid adalah tempat ibadah bagi umat Islam dan tempat bagi para prajurit Sunggal untuk mempertimbangkan mengembangkan strategi melawan gerilyawan Belanda.

Inilah sebabnya masjid ini terlihat sangat sederhana karena sebenarnya merupakan bagian dari saksi yang mati, yang merupakan bukti perjuangan orang-orang Medan melawan Belanda, tidak seperti bangunan bersejarah tempat ibadah lainnya, yang lebih indah secara artistik, kata Safruddin.

Konon, masjid ini harus menjadi warisan nasional yang mendokumentasikan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.

3. Nama Badiuzzaman berasal dari nama komandan tempur Sunggal, Datuk Badiuzzaman

Selain itu, masjid ini didirikan oleh komandan tempur Sunggal Datuk Badiuzzaman, yang namanya dinamai masjid.

Meskipun makamnya tidak di daerah masjid, itu terletak persis di Jawa karena dia diasingkan di Batavia oleh pemerintah Hindia Belanda, katanya.

Masjid ini terletak di daerah Jalan Asam Kumbang, Kabupaten Medan Sunggal. Masjid ini memiliki sejarah perjuangan yang panjang ketika Indonesia dihadapkan dengan era kolonial Belanda. Pada waktu itu, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga oleh Datuk Badiuzzaman sebagai tempat untuk mempertimbangkan dan merumuskan strategi perang. Datuk Badiuzzaman dikenal sebagai sosok yang kuat melawan Belanda. Pembangunan masjid ini juga ditolak oleh kolonialisme Belanda, sehingga bahan semen tidak diizinkan untuk membangun masjid dengan sengaja. Di sebelah kiri dan depan masjid ini adalah sejumlah makam milik keluarga Datuk Badiuzzaman dan penduduk setempat.

Nurdin Gembos dan Anwar Karbit menulis bahwa karena kesadaran para administrator dan umat sekitar, maka bangunan masjid menggunakan bentuk bangunan Wantilan untuk menghargai arsitektur dengan gaya Sumatera Utara.

Penerapan bangunan Wantilan di masjid Badiuzzaman didasarkan pada kesamaan filosofis sebagai titik pertemuan, di mana bangunan Wantilan dalam tradisi Hindu berfungsi sebagai titik pertemuan untuk kegiatan sosial dan keagamaan, sedangkan masjid adalah titik pertemuan bersama untuk berbagai aspek kehidupan mereka. Apakah Muslim.

Kepala bangunan masjid berbentuk dua atap piramida yang tumpang tindih untuk memperkuat properti bangunan Wantilan Sumatera Utara. Bahan atap menggunakan ubin hias untuk mengikuti empedu di ujung punggungan, yang merupakan ornamen khas arsitektur gaya Sumatera Utara.

Untuk menunjukkan identitasnya sebagai masjid sehingga dapat dengan mudah dikenali oleh umat Islam, terutama bagi wisatawan Muslim mengingat lokasi Masjid Badiuzzaman di pusat kota, ornamen Lafadz Allah digunakan di atap bangunan masjid.

Sejak itu, Masjid Badiuzzaman telah direnovasi beberapa kali, pada tahun 1979 untuk memperbaiki bangunan yang rusak dan pada tahun 1994 untuk memperluas bangunan sambil mengubah bentuknya untuk mencerminkan ciri khas Sumatera Utara.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *